07 /April 2017

SILUNGKANG KHAS SUMATERA BARAT

Silungkang adalah desa di Kabupaten Sawahlunto-Sijunjung, Sumatera Barat. Daerah ini dikenal dengan hasil tenunannya yang bernama Tenun Silungkang. Kemahiran menenun yang dimiliki warga sekitar tetap dipertahankan secara turun temurun dari dulu hingga sekarang. Keistimewaan tenunan silungkang ialah terdapat pada ragamnya dan hasil buatan tangan (hand-made). Ragam tenunan silungkang ada beberapa macam songket yaitu songket ikat, songket batabua, penuh, benang dua, dan songket selendang lebar. Keunikan yang dimiliki oleh songket ini telah membuat songket Silungkang diminati pembeli dari Malaysia dan Singapura. 


Saat ini pengrajin tenun Songket Silungkang atau Tenun Silungkang tidak hanya memproduksi satu jenis songket tertentu, seperti sarung dan atau kain saja. Akan tetapi, sudah merambah ke produk jenis lain, seperti: gambar dinding, taplak meja, permadani bergambar, baju wanita, sprei, baju kursi, bantal permadani, selendang, serber, kain lap dapur, sapu tangan, bahan kemeja (“hemd”), tussor (bahan tenun diagonal), dan taplak meja polos. 


Hasil songket silungkang atau tenun silungkang memiliki banyak motif. Nama motif yang digunakan untuk songket tersebut biasaya dari nama tumbuhan, binatang, atau benda yang ada di alam sekitar. Beberapa nama dari songket silungkang ini ialah Bungo Malur, Pucuak Ranggo Patai, Kudo-Kudo, Pucuak Jawa, Pucuak Kelapa, Tigo Belah, Kain Balapak Gadang, Bungo Kunyik, Kaluak Paku, Bungo Ambacang, Barantai, Sisiak, dan lain-lain. Sedangkan untuk tepi kain memiliki nama motif seperti Bungo Tanjung, Lintahu Bapatah, Itiak Pulang Patang, Bareh Diatua, Ula Gerang, dan lain-lain. 


Masing-masing nama motif songket tersebut memiliki makna tersendiri. Nilai budaya yang ada didalam songket silungkang antara lain keindahan (seni), ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Pada tahun 1910 Songket Silungkang telah berkiprah di gelanggang Internasional pada Pekan Raya Ekonomi yang berlangsung di Brussel ibukota Belgia. Yang mendemonstrasikan cara bertenun pada waktu itu yaitu Ande BAENSAH dari Kampung Malayu, dan dikala itu hanya dua daerah penghasil Songket dari Indonesia yang ikut didalam Pekan Raya Ekonomi tersebut yaitu Silungkang dan Bali.

Komentar

  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Facebook

Twitter